Aku Tidak Sedang Berlari

Hari ini tidak turun hujan. Cuacanya tidak panas dan tidak dingin. Ada sebuah kelembapan di udara yang menggantung tidak pasti; mungkin hujannya turun nanti, atau mungkin sedetik lagi, atau tidak sama sekali. Awan-awan di langit saling bersentuhan satu sama lain, berkejar-kejaran di langit, tetapi sepertinya mereka tidak akan menangis untuk beberapa jam ke depan.

Aku baru saja menyelesaikan Kafka on the Shore. Kini aku menatap ke jendela kayu beberapa meter di depanku. Ia terbuka, memperlihatkan sebuah pemandangan langit sore yang tenang. Bingkainya membatasi antara dinding dan langit, seolah-olah membentuk sebuah lukisan realis yang sangat nyata sedang tergantung di dinding. Seperti lukisan yang ada di dalam buku.

Lalu aku berpikir tentang lari. Sudah sangat lama pikiran ini terbentuk di dalam kepalaku. Apakah aku bisa seperti Kafka, tiba-tiba meninggalkan rumah dan meluncur di atas kereta dan menuju suatu tempat yang tidak pernah kuketahui sebelumnya?

Lalu aku sadar aku tidak sedang di rumah. Aku sedang menginap di sebuah perpustakaan yang jauh lebih besar dari Komura Memorial Library. Aku sedang berlari, seperti Kafka. Tetapi bedanya aku tahu pasti sedang menuju ke mana. Tidak seperti Kafka, tidak seperti Tuan Nakata. Aku mengerti dan memahami apa yang sedang ku tuju, aku mengetahui ke mana akhir tujuanku.

Ah, tetapi mungkin aku juga benar-benar tidak mengerti ke mana arah tujuanku, sama seperti Kafka, sama seperti Tuan Nakata. Tidak ada yang bisa memprediksi masa depan.

Tetapi keadaanku sekarang juga tidak bisa disebut sebagai ‘berlari’ juga. Aku tidak lari, ada orang-orang yang masih menerimaku pulang di rumahku yang jauh dari tempat ini. Aku tidak benar-benar lari. Aku hanya pergi untuk beberapa saat.

Di sini aku memiliki tujuan, tidak seperti Kafka. Di sini aku tahu pasti aku akan mencari apa, tidak seperti Tuan Nakata. Aku di sini bukan untuk hidup di masa lalu, dan meskipun aku hidup di masa sekarang, bukan berarti aku tidak memiliki memori masa lalu. Aku hanya manusia biasa dengan latar belakang keluarga yang biasa-biasa saja. Aku tidak bisa bicara dengan kucing, aku tidak bisa membuat ikan-ikan berjatuhan dari langit. Aku hanyalah aku, meskipun aku belum bisa mengenali diriku sendiri, tetapi aku tahu aku adalah aku. Tidak ada perempuan bernama gagak di dalam diriku. Di dalam sini hanyalah aku seorang, sendirian di dalam gelap, dan tidak menunggu seseorang untuk menjemputku.

Ah, aku bicara apa.

‘Pelarianku’ masih panjang. Masih tersisa tujuh semester yang harus kulewati. Namun, seperti Kafka, aku harus bisa menjadi anak perempuan yang paling tangguh di dunia.

 

 

Jogjakarta, 12 November 2016

other by me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *