Trilogi Ke : #1 Kejatuhan

Hari itu tanggal tiga November. Aku sedang berjalan ke kamarku di lantai dua asrama ketika aku terpeleset dan mematahkan leherku. Saat itu hujan deras sedang turun sehingga tidak ada yang mendengar suara berdebum tubuhku yang jatuh ke dasar tangga.

Entah bagaimana, aku terjatuh dengan posisi kepala berada di dasar tangga, dan kakiku masih berada di tangga. Yah, gampangnya aku berada dalam posisi terbalik; kepala di bawah, kaki di atas. Lucu sekali bagaimana aku melihat darah yang bercampur dengan air hujan mengalir dari dalam tubuhku, menyebar ke lantai, membuat noda menggenang yang berwarna merah terang. Dari sudut mataku aku melihat tanganku yang tertekuk dengan aneh. Mungkin tanganku patah juga. Entahlah. Aku sudah mati rasa sejak kehujanan tadi.

Hujan hari itu sangat deras. Aku menerobos hujan ketika pulang dari kampus. Sepatu baruku basah kuyup. Begitu pula bajuku. Untung saja aku sudah makan di kantin kampus. Mungkin kalau aku hujan-hujanan dalam keadaan perut kosong, bisa-bisa aku jatuh di tengah jalan, bukan di tangga asrama. Ah, sepertinya jatuh di jalan lebih baik. Paling tidak akan ada yang melihat dan membantumu berdiri, daripada di tangga asrama seperti ini.

Dalam posisi seperti ini, aku bisa merasakan ada aliran hangat keluar dari leherku. Sepertinya banyak sekali darah yang menggenang di sekitar tubuhku. Mungkin pinggiran anak tangga telah mengiris leherku cukup dalam. Dengan pelan tapi pasti, cairan merah yang lengket ini menyebar lebih luas lagi di lantai satu membentuk bunga-bunga merah gelap yang indah.

Pandanganku mulai kabur. Apakah kehilangan darah bisa membuatmu mati? Mungkin bisa. Aku pernah mendengar jika kau kehilangan empat puluh persen dari darah di dalam tubuhmu, bisa-bisa nyawamu ikut tertarik keluar. Apa benar begitu?

Omong-omong, aku mengagumi bagaimana cara mataku berkunang-kunang karena kekurangan darah. Menurut kertas-kertas selebaran PMR yang sering kudapat, jika orang berkunang-kunang pandangan matanya akan mengabur, kemudian menghitam, lalu biasanya diikuti dengan pingsan. Namun apa yang kualami saat ini beda. Dari kedua sudut pandanganku, seperti ada piksel-piksel yang merambat menuju ke titik tengah pandangan, seperti yang ada di game-game tahun seribu sembilan puluhan. Keren, bukan? Jika dipikir-pikir lagi, tubuh kita ini memang keren sekali.

Namun aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Sepertinya darah yang keluar dari tubuhku sudah terlalu banyak. Piksel-piksel di mataku sudah sangat dekat dengan titik tengah pandanganku. Pusing di kepalaku sudah sangat tak terkira. Kukerutkan dahiku, berharap akan mengurangi rasa sakitnya.

Sedetik kemudian aku hilang.

 

 

Jogja, 4 November 2016

 

 

other by me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *