Trilogi Ke : #3 Ketakutan

Ada satu titik di dalam tubuh ini, di mana ia mencoba dengan segenap hati dan jiwanya untuk muncul ke permukaan. Namun titik ini selalu kalah oleh teman-temannya; ego, otak, tangan, pikiran, dan teman-temannya yang lain. Titik ini sudah bosan berada di dalam, namun otak selalu membentaknya jika ia memaksa untuk keluar; apa kau tidak malu dengan dirimu sendiri?

Titik ini adalah titik yang selalu menangis setiap malam, yang selalu bergetar ketika ia disebut tanpa sadar oleh orang lain, dan titik ini selalu berdoa kepada Tuhan setiap hari; apakah suatu saat ia akan bisa keluar?

Titik ini ingin mengadu, tetapi kepada siapa? Seperti lagu terkenal itu, titik ini ingin marah kepada siapa saja yang ada, karena telah membuatnya terpenjara selama tubuh ini lahir dan ada. Tetapi titik ini, seperti layaknya anggota tubuh yang lain, telah terhubung membentuk sebuah sistem yang disebut tubuh, dan secara tidak langsung, titik ini sebenarnya mengerti mengapa otak selalu memarahinya ketika ia ingin keluar.

Otak tidak ingin membuat tubuh ini takut. Ia tidak ingin membuat tubuh ini resah, sehingga mengacaukan segala sistematika yang tengah berjalan di dalamnya. Ia tidak ingin dirinya sendiri mati karena ia yakin tubuh ini bisa mati jika titik itu keluar ke alam bebas. Titik itu tahu. Titik itu mengerti.

Namun titik ini menyadari apa yang otak tidak sadari. Tubuh ini sudah mengetahui keberadaan titik itu. Tubuh ini sudah sedikit resah dengan adanya titik itu. Tubuh ini tahu. Tubuh ini mengerti.

Namun titik ini tidak bisa menolak permintaan otak dan pikiran, dan seluruh anggota tubuh yang lain, yang memintanya dengan berurai air mata darah, agar ia tidak akan mencoba lagi untuk keluar.

Titik ini mungkin akan menunggu beberapa tahun lagi untuk bisa bebas.

other by me

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *